Pembatasan Perjalanan Menambah Kesulitan Bagi Pariwisata

Eastjourneymagz.com—Pembatasan
perjalanan karena pandemi corona atau covid-19 saat ini berpengaruh pada
pariwisata saat ini. Dalam sebuah laporan dari UNWTO baru-baru ini
mengungkapkan laporan Pembatasan Perjalanan UNWTO memberikan gambaran
menyeluruh tentang peraturan yang berlaku di 217 tujuan di seluruh dunia.

“Edisi sebelumnya telah menunjukkan gerakan ke arah
pelonggaran atau pencabutan pembatasan perjalanan, laporan terbaru menunjukkan
bahwa keseriusan situasi epidemiologis yang terus-menerus telah menyebabkan
pemerintah mengadopsi pendekatan yang lebih berhati-hati,” tulis laporan itu
yang dilansir, Senin 15 Maret 2021.

Dijelaskan pada awal Februari, 32% dari semua tujuan
di seluruh dunia (total 69) benar-benar ditutup untuk pariwisata internasional.
Dari jumlah tersebut, sekitar lebih dari setengah (38 tujuan) telah ditutup
setidaknya selama 40 minggu.

Sementara itu pada saat yang sama, 34% tujuan di
seluruh dunia sekarang sebagian tertutup untuk wisatawan internasional.

“Pembatasan perjalanan telah banyak digunakan untuk
membatasi penyebaran virus. Sekarang, saat kita bekerja untuk memulai kembali
pariwisata, kita harus menyadari bahwa pembatasan hanyalah salah satu bagian
dari solusi,” Sekretaris Jenderal UNWTO Zurab Polilikashvili.

“Penggunaannya harus didasarkan pada data dan analisis
terbaru dan secara konsisten ditinjau untuk memungkinkan pemulihan sektor yang
aman dan bertanggung jawab di mana jutaan bisnis dan pekerjaan bergantung,”
imbuhnya.

Variasi
regional jelas

Edisi kesembilan Laporan Pembatasan Perjalanan UNWTO
menunjukkan bahwa perbedaan regional terkait dengan pembatasan perjalanan tetap
ada. Dari 69 destinasi yang perbatasannya benar-benar tertutup bagi wisatawan,
30 di Asia dan Pasifik, 15 di Eropa, 11 di Afrika, 10 di Amerika dan tiga di
Timur Tengah.

Pada saat yang sama, penelitian UNWTO juga menunjukkan
kecenderungan mengadopsi pendekatan yang lebih bernuansa, bukti, dan berbasis
risiko untuk menerapkan pembatasan perjalanan.

“Semakin banyak tujuan di seluruh dunia sekarang
mengharuskan wisatawan internasional untuk menunjukkan PCR negatif atau tes
antigen pada saat kedatangan dan juga memberikan rincian kontak untuk tujuan
penelusuran,” beber laporan tersebut.

Memang, 32% dari semua tujuan di seluruh dunia
sekarang memiliki penyajian tes seperti persyaratan utama mereka untuk
kedatangan internasional yang sering dikombinasikan dengan karantina, sementara
jumlah yang sama telah menjadikan tes sebagai tindakan sekunder atau tersier.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Kelompok Sadar Wisata GerebeQ Ayem Kembangkan Wisata Sawah di Lampung Timur
Next post Menkes Dukung 3 Daerah di Bali untuk Menjadi Zona Hijau Covid-19