Kualitas Udara Dunia Meningkat, Ada Apa?

Ilustrasi Udara Jakarta/Foto Tempo

Eastjourneymagz.com–Data baru dari platform data kualitas udara global IQAir, diterbitkan dalam sebuah Laporan Kualitas Udara Dunia 2020 dan peta global interaktif online, mengungkapkan dampak lockdown di sejumlah negara akibat pandemi COVID-19 dan adanya perubahan perilaku manusia pada tingkat polusi partikulat global (PM2.5).

Dikutib dari lama Greenpeace Indonesia Beberapa temuan utama dalam laporan ini yaitu

  • Dampak COVID-19: Pada tahun 2020, 84% dari semua
    negara yang dipantau mengalami peningkatan kualitas udara, sebagian besar
    karena tindakan karantina wilayah global untuk memperlambat penyebaran
    COVID-19.
  • Penurunan tingkat polusi udara di kota-kota besar pada
    tahun 2020 dibandingkan dengan 2019 termasuk Singapura (-38%), Wuhan (-18%),
    Seoul (-16%) dan Delhi (-15%).
  • Hanya 24 dari 106 negara yang dipantau memenuhi
    pedoman tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk PM2.5 pada tahun 2020.
  • Perubahan iklim terus mempengaruhi kualitas udara:
    Tahun 2020 tercatat bersama 2016 sebagai tahun terpanas bumi. Kebakaran hutan
    dan badai pasir yang dipicu oleh pemanasan iklim menyebabkan tingkat polusi
    yang sangat tinggi di California, Amerika Selatan, Serbia, dan Australia.
  • India: Pada tahun 2020, semua kota di India yang
    dipantau mengamati peningkatan kualitas udara dibandingkan dengan 2018,
    sementara 63% mengalami peningkatan dibandingkan dengan 2019. Namun, India
    terus tampil di peringkat teratas kota paling tercemar, dengan 22 dari 30
    teratas kota yang tercemar secara global.
  • China: Pada tahun 2020, 86% kota di China mengalami
    udara yang lebih bersih dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, penduduk
    China masih terpapar kadar PM2.5 lebih dari 3 kali lipat pedoman tahunan WHO.
    Hotan di barat laut China menempati peringkat kota paling tercemar di dunia,
    sementara kota-kota lain di kawasan ini juga berperingkat tinggi, sebagian
    besar karena badai pasir yang diperburuk oleh perubahan iklim.
  • Amerika Serikat: Tingkat polusi partikel rata-rata
    naik 6,7% pada tahun 2020, meskipun ada tindakan untuk menahan penyebaran
    COVID-19. Kebakaran hutan yang memecahkan rekor di California, Oregon, dan
    Washington menyebabkan kota-kota di AS menjadi 77 dari 100 kota paling tercemar
    di dunia pada September 2020 (menurut rata-rata PM2,5 bulanan). Pada tahun
    2020, 38% kota di Amerika tidak memenuhi pedoman WHO untuk tingkat PM2.5
    tahunan. Ini merupakan peningkatan yang signifikan dari 21% kota di AS yang
    tidak memenuhi pedoman WHO pada tahun 2019.
  • Asia Selatan: Enam puluh tujuh persen kota di
    Bangladesh yang melakukan pengukuran polusi udara, termasuk dalam kategori
    tidak sehat. Kota-kota di Asia Selatan termasuk 42 dari 50 kota paling tercemar
    di dunia.
  • Eropa: Pada tahun 2020, sekitar setengah dari semua
    kota di Eropa melebihi batas ambien WHO untuk polusi PM2.5 tahunan. Tingkat
    polusi PM2.5 tertinggi ditemukan di Eropa Timur dan Selatan, dengan Bosnia
    Herzegovina, Makedonia Utara, dan Bulgaria memimpin.
  • Bangladesh, Cina, India, dan Pakistan berbagi 49 dari
    50 kota paling tercemar di seluruh dunia.
  • Pada 2020 terdapat peningkatan sebesar 14% dalam
    jumlah stasiun pemantauan kualitas udara secara global dari tahun sebelumnya.
  • Banyak negara di Asia Tenggara, Timur Tengah, Afrika,
    Asia Selatan dan Amerika Selatan kekurangan stasiun pemantauan kualitas udara
    untuk memantau dan melaporkan polusi udara.

“Tahun 2020 membawa penurunan polusi udara yang tak terduga. Pada 2021, kami melihat kemungkinan akan kembali terjadi peningkatan polusi udara karena aktivitas manusia” kata Frank Hammes, CEO IQAir.

“Kami berharap laporan ini akan memberi peringatan bahwa perlu tindakan sesegera mungkin untuk memerangi polusi udara, yang tetap menjadi ancaman kesehatan lingkungan terbesar di dunia,” imbuhnya.

“Banyak bagian dunia mengalami peningkatan kualitas udara yang belum pernah terjadi sebelumnya, tetapi berumur pendek, pada tahun 2020, karena pembatasan terkait pandemi COVID-19 menyebabkan penurunan tajam dalam konsumsi bahan bakar fosil,” kata Lauri Myllyvirta, analis utama di Center for Research on Energy and Clean Air (CREA). “Kualitas udara yang meningkat ini berarti puluhan ribu kematian yang terhindarkan dari polusi udara. Dengan beralih ke energi bersih dan transportasi bersih, kita dapat mewujudkan peningkatan yang sama secara berkelanjutan.”

Di Jakarta sendiri, meskipun ada penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) karena COVID-19, kualitas udara di Jakarta tetap dalam kisaran yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Citra satelit dan analisis yang disusun oleh Center for Research on Energy and Clean Air (CREA) mengungkapkan bahwa sementara konsentrasi NO2 turun 33%, tingkat polusi PM2.5 tetap tinggi.

Sedangkan selama masa PSBB transisi, konsentrasi PM2.5 dan NO2 di Jakarta terus meningkat. Bahkan pada 15 Juni 2020, Jakarta masuk lima besar kota di dunia dengan kualitas udara terburuk menurut database IQAir
Visual. Data lain yang cukup menarik dari laporan ini adalah kota Tangerang Selatan menjadi kota paling tercemar se-Asia Tenggara.  

Penurunan konsentrasi NO2 di Jakarta sebagian besar disebabkan oleh penurunan kegiatan pada sektor transportasi dan industri selama masa PSBB. Namun, sumber pencemar utama, seperti pembangkit listrik tenaga batubara yang berlokasi di luar Jakarta, termasuk pembangkit listrik tenaga batubara Suralaya di Banten, terus beroperasi seperti biasa. Khususnya, NOx dari sumber tersebut dapat teroksidasi untuk membentuk PM2.5, yang merupakan partikel mikro yang memiliki periode bertahan lama di atmosfer dan dapat terbang cukup jauh. Karena lintasan angin yang berlaku, polutan PM2.5 dari pembangkit batubara ini mencapai wilayah Jakarta selama periode PSBB, dan mempengaruhi kualitas udara di kota.

Greenpeace mendesak pemerintah provinsi DKI Jakarta untuk menambah stasiun pemantauan kualitas udara yang dapat mewakili Jakarta secara keseluruhan, menyediakan sistem transportasi publik terintegrasi, dan berkoordinasi dengan pemerintah Jawa Barat dan Banten untuk mengendalikan polusi udara lintas batas”, ujar Bondan Andriyanu, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Film Bumi Manusia, Kisah Cinta dan Perjuangan di Zaman Kolonial
Next post Sandiaga Uno Damping Jokowi Tinjau Pelaksanaan Vaksinasi Massal Bagi Pelaku Wisata di Bali