BALADA KABUT SENJA DI KAMPUNG POA

Poa itu ibu pertiwiku, tanah dan darah ku, Ende Tanaku, Rahimku. Poa adalah tanah terjanjiku, tanah lahir dan matiku.

……………………

Yo Endong bela
Ngkiong le poco
O de runing gentut
Caru rewung go ya endong bela
Rewung taki tana
A de pande wleng ata
Ata we’e go ya endong bela
…………………………………..

Teringat
akan syair itu saat senja tiba. Kabut menyelimuti kampung. Ini kah sambutan
bagi yang pulang kelana? Dimana wajah kampung? Wajah sesungguhnya? Dimana
Compang? Dimana Mbaru Gendang? Dimana Rumah-rumah dan Penduduk?

Hampir
sejam kabut itu datang dan menyelimuti kampung itu. Angin spoi-spoi mulai
menyekah keringat lalu perlahan-lahan mengusir kabut itu. Ia meniup kabut
menuju Tengku Rengang sebuah batu besar, kekar dan tinggi. Ia meniup lagi lebih
jauh di Watu Rambung lalu menghilang dan bersembunyi di balik Watu Meca.

Meski
di temaram senja, setelah kabut itu terusir, wajah cantik kampung itu mulai
tampak. Ia seperti Timung Te’e (Seorang gadis cantik dalam sebuah legenda
Manggarai. Kalau mereka bilang Kleopatra itu Ratu Sheba dan Timung Te’e adalah
Kleopatra Manggarai. Tapi aku bilang kleopatraku Poa. Ada pula yang bilang Dewi
Athena itu Timung Te’e, bagiku Athenaku adalah Poa.




Poa
itu ibu pertiwiku, tanah dan darah ku, Ende
Tanaku,
Rahimku. Poa adalah tanah terjanjiku, tanah lahir dan matiku.Tanah
dimana nenek moyang ku disemayamkan. Poa telah melindungi mereka dan kami  di bawa naungan sayapnya.

Poa
didandani oleh batu-batu, di kelilingi tebing-tebing. Kebun-kebun
mengelilinginya dimana ditumbuhi oleh tetumbuhan. Burung-burung berkicau ria
memuji kecantikan Ende Tanahku.

Biar
apa kata orang Tanah Poa lebih baik. Ia lebih cantik daripada dewi manapun. Aku
mendengar bisikan itu, bisikan ilalang sepanjang jalan. ‘Tanah Poa itu jauh
dari Jalan Raya, Jauh dari Pekikan mesin-mesin, dari rengekan mobil-mobil dan
motor-motor. Jalan ke sana berkelok-kelok dan meliwati bebatuan. Sangat udik!’

‘Orang-orang
Poa itu hanya bisa jalan kaki saja 
sehingga betisnya besar-besar. Tubuh mereka padat-padat dan kasar-kasar
karena harus mengangkat beban terutama hasil-hasil kebun mereka. Mereka harus
timbah air yang jauh dari rumah dan jangan-jangan mereka jarang mandi?’

‘Putra-putri
Poa itu harus berjalan jauh untuk mendapatkan pelajaran di sekolah. Mereka
harus belajar melawan kemalasan setiap pagi.’

Yah,
ada bagitulah ocehan rerumputan itu. Tetapi ocehan itu tak menyurut senyum
kebanggaanku sebagai orang Poa yang udik itu. Aku tau ada satu hal yang kurang
dari rerumputan yang meracau sepanjang jalan itu yakni mereka tidak mempunyai
hati. Orang-orang Poa punya hati. Bahkan rerumputan yang meracau itu takan
mendapatkan seribu kutukan dari kami. Kami orang udik itu akan memberikan
berlaksa-laksa pengampunan dan kemurahan.


Pendidikan
kami memang tak seberapa. Seperti kumpulan binatang jalang, kami hanya kumpulan
orang-orang yang sebagian besar tidak tamat Sekolah Dasar. Sekumpulan
orang-orang yang tidak memiliki titel seperti orang yang duduk di kursi
kekuasaan di sana. Di Ruteng, di kantor-kantor Bupati dan pemerintahan yang
lainnya. Di Kursi-kursi Dewan Perwakilan Rakyat yang kami pilih dengan nurani
kami sendiri. Dan juga kampus STKIP yang mencetak orang-orang bertitel.

Tetapi
cukuplah kami menjadi orang Poa itu sendiri. Kami menanam cinta di tanah
kebanggan kami Poa. Cinta yang telah mengalir dan menetes dari leluhur kami
yang selalu diceritakan kepada anak cucu kelak.

“Leluhur
kami bilang Cintailah tanah kelahiranm!” Kata-kata itu telah menyihir kami.
Lebih-lebih aku sendiri, itu seperti tersemat sendiri di dalam DNA ku.
…………………………..
Bersambung!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post ALASAN ORANG MANGGARAI MEMBANGUN PERKAMPUNGAN DI BEBUKITAN
Next post Rangkuk Alu