Pelepasliaran Harimau Sumatra Suro ke Taman Nasional Gunung Leuser

Eastjourneymagz.com–Seekor
harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) jantan, yang diberi nama Suro,
kembali ke habitat alaminya di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Sabtu
(13/3). Pelepasliaran Suro yang berusia sekitar 5 – 6 tahun, dan berat badan
kurang lebih 100 kg ini, menambah populasi harimau Sumatra di alam.

“Pada proses pelepasliaran, terlihat Suro sangat
bersemangat dapat kembali ke habitat alaminya. Saat pintu kandang terbuka, Suro
langsung meneruskan perjalanannya menuju ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung
Leuser,” tutur Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) KLHK Indra
Exploitasia dalam keterangan pers yang diterima Eastjourneymagz.com.

Kegiatan pelepasliaran ini melibatkan tim gabungan
yang terdiri dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Balai Besar
Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam
Sumatera Utara, Direktorat KKH, Bupati Gayo Lues, Tiger Project UNDP, Wildlife
Conservation Society-Indonesia Program (WCS-IP), Forum Konservasi Leuser (FKL),
dan Yayasan Persamuhan Bodhicitta Mandala Medan.

“Atas nama KLHK, saya menyampaikan apresiasi
setinggi-tingginya kepada semua pihak yang mendukung pelepasliaran, yang merupakan
bentuk kolaborasi banyak pihak dalam upaya pelestarian harimau Sumatra. Melalui
UPT Direktorat Jenderal KSDAE, kami terus melakukan upaya mitigasi dan
penanganan konflik satwa liar di seluruh wilayah kerjanya, termasuk pelibatan
masyarakat dan pemerintah daerah dalam mendukung konservasi satwa liar,”
kata Indra.

Lebih lanjut, Indra menyampaikan ucapan terimakasih
dan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Gayo Lues, khususnya Bupati Gayo Lues
yang telah mendukung upaya pelepasliaran harimau Sumatra Suro. 

Dalam sambutannya Bupati Gayo Lues, Muhammad Amru
mengapresiasi upaya konservasi harimau Sumatra yang dilakukan oleh KLHK
khususnya BBTNGL dan BKSDA Aceh, terlebih dalam upaya menjaga dan mempertahankan
populasi harimau Sumatra yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser.

“Saya menghimbau agar masyarakat yang tinggal di
sekitar kawasan taman nasional yang juga merupakan habitat harimau Sumatra
untuk bersama-sama menjaga kelestarian alam khususnya satwa liar harimau Sumatra
dengan cara tidak memasang jerat, racun dan perburuan yang dapat menyebabkan
kematian satwa liar yang dilindungi,” ujarnya.

Sebelumnya, harimau sumatra Suro dievakuasi melalui
perangkap jebak (box trap) akibat berkonflik di Desa Pangkalan Sulampi,
Kecamatan Suro Makmur, Kabupaten Aceh Singkil. Selanjutnya harimau sumatra Suro
dititipkan sementara ke Balai Besar KSDA Sumatera Utara di Lembaga Konservasi
Barumun Nagari Wildlife Sanctuary, Kabupaten Padang Lawas Sumatera Utara.

Hal itu untuk memberikan kenyamanan serta guna
dilakukan observasi lebih jauh oleh Tim medis BKSDA Aceh, FKL, BBKSDA Sumatera
Utara, dan Yayasan Persamuhan Bodhicitta Mandala Medan sambil menunggu kajian
kelayakan lokasi pelepasliaran yang sedang dilakukan oleh tim.

Pelepasliaran ke salah satu tempat di wilayah Taman
Nasional Gunung Leuser dipilih berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Tim, yang
terdiri dari BBTNGL, WCS-IP, FKL dan masukan para pihak yang memiliki keahlian
teknis tentang harimau Sumatra antara lain dengan mempertimbangkan kajian
populasi, keberadaan satwa mangsa, dan ancaman.

Di sekitar lokasi yang menjadi tempat pelepasliaran
telah dilakukan operasi sapu jerat oleh tim BBTNGL. Kegiatan ini bertujuan
untuk mengantisipasi dan meminimalisir ancaman khususnya jerat.

Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) merupakan
salah satu jenis satwa liar dilindungi di Indonesia berdasarkan Peraturan
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018.
Berdasarkan The IUCN Red List of Threatened Species, Harimau Sumatera berstatus
Critically Endangered atau spesies yang terancam kritis, beresiko tinggi untuk
punah di alam liar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Kunjungi Desa Wisata Karangrejo, Yogyakarta Sandiaga Uno Minta Perkuat Atraksi Berbasis Narasi
Next post Kelompok Sadar Wisata GerebeQ Ayem Kembangkan Wisata Sawah di Lampung Timur