Buku: Bumi Manusia, Sebuah Perlawanan dengan Pena

Eastjourneymagz.com—Karya
sastrawan pesohor Pramoedya Ananta Toer mempunyai karakteristik sendiri. Karena
itu karya-karyanya sangat istimewah. Saking istimewahnya sampai pernah dilarang
beredar. Melalui Tetralogi Pulau Buru, ia melawan dengan pena. Ia menghasilkan
empat empat novel yang membahas roman sejarah Indonesia pra kemerdekaan.

Di saat pandemi Covid-19 ini kejenuhan akibatpembatasan demi pembatasan dilakukan sangat butuh aktivitas yang berkualitas termasukmembaca buku. Karya-karya-karya Pram ini sangat direkomendasikan untuk dibaca.
Salah satunya Bumi Manusia.

Karya ini merupakan jilid pertama Tetralogi Pulau Buru.
Karya ini bahkan sudah diadaptasi menjadi film oleh Sutradara Hanung Bramantyo.
Jadi pembaca sangat beruntung, tidak hanya membaca karyanya tapi juga menonton
melalui film.

Bumi Manusia berlatar awal abad ke-19 dan abad ke-20. Pada
zaman itu kolonialisme terjadi dan penindasan terhadap warga Hindia Belanda
atau Indonesia.
Melalui pergulatan toko Minke yang merupakan pantulan “manusia
Indonesia” di zaman kolonial.

Minke adalah pemuda yang berasal dari Jawa berdarah
biru atau ningrat. Digambarkan pemuda itu sangat cerdas. Ia adalah anak dari
seorang bupati yang bersekolah di Hogere Burger School (H.B.S) Surabaya. Di
sekolah itu kegiatan menulis menjadi sangat penting.

Di sekolah itu juga Minke memperoleh namanya dari
gurunya. Nama itu ternyata berasal dari kata monkey atau monyet. Di sekolah
yang terbatas hanya kalangan tertentu tersebut ia belajar banyak hal.

Pramoedya Ananta Toer

Minke tumbuh menjadi pemuda pribumi yang cerdas,
revolusioner, kritis dan pandai menulis. Ia mengirimkan tulisan-tulisannya ke
surat kabar. Melalui penanya ia menentang ketidakadilan.

Melalui Bumi Manusia Pram ingin menggambarkan kondisi
zaman itu. Dimana pribumi ditindas dan menderita di bumi mereka sendiri. Secara
sosial terjadi gap yang melebar jauh antara pribumi dan non-pribumi.

Pribumi adalah golongan bawa dan rendah dalam strata
sosial. Konflik sosial terjadi seperti perbudakan, pergundikan, perampasan
tanah dan kerja paksa. Minke hadir untuk melawan semua itu melalui penanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Ini 3 Destinasi Wisata yang Diusulkan Menjadi Zona Hijau Bebas Covid-19 di Bali
Next post Film Bumi Manusia, Kisah Cinta dan Perjuangan di Zaman Kolonial