Cerita Dunia Arwah di balik Danau Kelimutu

Eastjourneymagz.com–DANAU Tiga Warna sangat memukau setiap pengunjung. Kawah kuno ini memang memiliki daya tarik tersendiri. Siapapun pasti hanya mampu bergeming ketika menyaksikan kedasyatan panorama alam yang indah.
Nama tempat ini berasal dari dua kata yakni keli yang berari danau sedangkan mutu berarti mendidih. Maka dari padanana kata itu dapat disederhanakan sebagai danau yang mendidih. Entah siapa yang memberi nama itu pertama kali dan apa yang menginspirasinya untuk menyemat nama itu.
Sebelum akhirnya ramai dikunjungi oleh orang banyak, Danau Kelimutu ternyata sangat ditakuti oleh masyarakat setempat. Mereka menganggap tempat ini sangat keramat dan menyimpan sesuatu yang mistik. Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menyentuh tempat ini.

Dalam mitos masyarakat setempat Tiga danau yang memiliki warna yang berbeda menggambarkan dunia arwah. Warna putih, merah dan biru (Berubah-rubah dalam siklus) melukiskan dunia kematian. Di sana terdapat rahasia orang yang sudah meninggal dunia.

Dikisahkan, danau yang berwarna biru atau disebut Tiwu Nuwa Muri Koo Fai, merupakan tempat berkumpulnya jiwa para muda dan mudi yang telah meninggal dunia. Pada danau yang berwarna biru inilah tujuan akhirat kaum muda.

sedangkan Danau warna merah Tiwu Ata Polo, merupakan tempat peristirahatan terakhir bagi orang-orang yang melakukan kejahatan di dunia. Danau warna merah ini bisa dibandingkan dengan nerakah dalam konsep beberapa agama sebagai tempat bagi jiwa-jiwa yang jahat.
Danau warna putih digamabarkan Tiwu Ata Mbupu dimaknai sebagai tempat bagi jiwa-jiwa orang tua atau dewasa. Kemungkinan besar di tempat ini juga menjadi tempat bagi para leluhur.
Mitos ketiga danau ini memiliki arti penting bagi masyarakat setempat. Bahkan saat warna tiga danau ini berubah para warga harus memberi sesajen kepada orang yang telah meninggal. Mereka harus membawa sesajen di tempat ini.
Seperti apakah mitos-mitos itu sesungguhnya, silahkan kunjungi Danau Kelimutu. Kawasan ini telah menjadi kawasan Konservasi alam sejak 26 Februari 1992.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Manggarai Coffee as a Friend
Next post The World of Spirits or Death Behind Kelimutu Lake